Minggu, 15 April 2012

MAKALAH FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MATERNAL



DI SUSUN OLEH
AGUS YAZID
BAYU KUMORO
ILMI AL-SYIFAH EMHA
LANGIT PHOCA ZUYIKE
ZARA EKA PUTRI

PRODI S-1 KEPERAWATAN
STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
2010-2011
PENDAHULUAN
                Setiap individu mempunyai hak untuk lahir sehat maka setiap individu berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Keperawatan ibu meyakini bahwa peristiwa kelahiran merupakan proses fisik dan psikis yang normal serta membutuhkan adaptasi fisik dan psikososial dari individu dan keluarga. Keluarga perlu didukung untuk memandang kehamilannya sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan. Upaya mempertahankan kesehatan ibu dan bayinya sangat membutuhkan partisipasi aktif dan keluarganya.
Kesejahteraan dan kesehatan perempuan di Indonesia saat ini masih perlu ditingkatkan. Masalah kesehatan perempuan yang semakin kompleks menuntut penyelesaian yang komprehensif dan membutuhkan penatalaksanaan perawat yang kompeten dibidangnya. Mengingat kompleeksnya permasalahan kesehatan ini, maka perlu sumber daya manusia yang profesional dan mempunyai pendidikan yang memadai sehingga mampu berespon dengan tepat terhadap permasalahan kesehatan yang ada.

 

ISI
KONSEP DASAR KEPERAWATAN MATERNITAS

A.      PENGERTIAN
Keperawatan maternitas merupakan salah satu bentuk pelayanan profesional keperawatan yang ditujukan kepada wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya, berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam beradaptasi secara fisik dan psikososial untuk mencapai kesejahteraan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

Setiap individu mempunyai hak untuk lahir sehat maka setiap individu berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Keperawatan ibu menyakini bahwa peristiwa kelahiran merupakan proses fisik dan psikis yang normal serta membutuhkan adaptasi fisik dan psikososial dari idividu dan keluarga. Keluarga perlu didukung untuk memandang kehamilannya sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan. Upaya mempertahankan kesehatan ibu dan bayinya sangat membutuhkan partisipasi aktif dari keluarganya.

Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga, dapat mengakibatkan krisis situasi selama anggota keluarga tidak merupakan satu keluarga yang utuh. Proses kelahiran merupakan permulaan bentuk hubungan baru dalam keluarga yang sangat penting. Pelayanan keperawatan ibu akan mendorong interaksi positif dari orang tua, bayi dan angggota keluarga lainnya dengan menggunakan sumber-sumber dalam keluarga.. Sikap, nilai dan perilaku setiap individu dipengaruhi oleh budaya dan social ekonomi dari calon ibu sehingga ibu serta individu yang dilahirkan akan dipengaruhi oleh budaya yang diwarisi.

Asuhan keperawatan yang diberikan bersifat holistik dengan selalu menghargai klien dan keluarganya serta menyadari bahwa klien dan keluarganya berhak menentukan perawatan yang sesuai untuk dirinya. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan advokasi dan mendidik WUS dan melakukan tindakan keperawatan dalam mengatasi masalah kehamilan, persalinan dan nifas, membantu dan mendeteksi penyimpangan-penyimpangan secara dini dari keadaan normal selama kehamilan sampai persalinan dan masa diantara dua kehamilan, memberikan konsultasi tentang perawatan kehamilan, pengaturan kehamilan, membantu dalam proses persalinan dan menolong persalinan normal, merawat wanita masa nifas dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari menuju kemandirian, merujuk kepada tim kesehatan lain untuk kondisi­kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Perawat mengadakan interaksi dengan klien untuk mengkaji masalah kesehatan dan sumber-sumber yang ada pada klien, keluarga dan masyarakat; merencanakan dan melaksanakan tindakan untuk mengatasi masalah-maslah klien, keluarga dan masyarakat; serta memberikan dukungan pada potensi yang dimiliki klien dengan tindakan keperawatan yang tepat. Keberhasilan penerapan asuhan keperawatan memerlukan kerjasama tim yang terdiri dari pasien, keluarga, petugas kesehatan dan masyarakat.

B.      PARADIGMA KEPERAWATAN MATERNITAS

Paradigma keperawatan pada keperawatan maternitas meliputi manusia, lingkungan, sehat dan keperawatan.

a.       Manusia
Terdiri dari wanita usia subur wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya adalah anggota keluarga yang unik dan utuh, merupakan mahluk bio-psiko­sosial dan spiritual yang memiliki sifat berbeda secara individual dan dipengaruhi oleh usia dan tumbuh kembangnya. Salah satu tugas perkembangan wanita adalah pengalaman melahirkan danak yang dapat merupakan krisis situasi dalam keluarga tersebut apabila tidak mampu beradaptasi dengan baik.

b.       Lingkungan
Sikap, nilai dan prerilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya dan social disamping pengaruh fisik Proses kehamilan danpersalinan serta nifas akan melibatkan semua anggota keluarga dan masyarakat. Proses kelahiran merupakan permulaan suatu bentuk hubungan baru dalam keluarga yang sangat penting, sehingga pelayanan maternitas akan mendorong interaksi yang positif dari orang tua, bayi dan angota keluarga lainnya dengan menggunakan sumber-sumber dalam keluarga.

c.       Sehat
Sehat adalah suatu keadaan terpenuhinya kebutuhan dasar, bersifat dinamis dimana perubahan-perubahan fisik dan psikososial mempengaruhi kesehatan seseorang.setiap indivisu memeiliki hak untuk lahir sehat sehingga WUS dan ibu memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

d.       Keperawatan Ibu
Keperawatan ibu merupakan pelayanan keperawatan professional yang ditujukan kepada wanita usia subur wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Keperawatan ibu memberikan asuhan keperawatan holistik dengan selalu menghargai klien dan keluarganya serta menyadari bahwa klien dan keluarganya berhak menentukan perawatan yang sesuai untuk dirinya.

C.       FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MATERNAL

a.       Faktor Sosiodemografi
Salah satu faktor sosiodemografi yang berpengaruh adalah usia atau umur seseorang dalam kehamilan, karena dapat berpengaruh pada kesehatan maternal (kehamilan). Usia dapat mempengaruhi psikologis ibu maksudnya menyangkut kedewasaan dan tingkat stres seoang ibu. Seorang ibu yang baru mengalami kehmilan pertama akan mengalami stres yang dapat mengganggu kesehatan janin. Dan juga seorang wanita (ibu) membutuhkan umur yang cukup bagi kematangan kesehatan rahimnya, jika rahim wanita itu belum cukup matang untuk mengandung bayi maka dapat mengancam kelangsungan hidup bayi dan ibu.

b.       Faktor Sosioekonomi dan etnik
Faktor ini sangat erat kaitannya dengan masalah di bidang pendidikan, etnik dan pendapatan.
1.       Pendidikan
Pendidikan yang rendah akan menimbulkan sikap masyarakat yang acuh tak acuh terhadap kesehatan sehingga tidak mengenal bahaya yang mungkin terjadi akibat dari sikap mereka.
2.       Etnik
Faktor etnik (budaya) sangat berpengaruh terhadap tingkah laku masyarakat, kususnya masyarakat tradisional budaya yang dapat membahayakan kesehatan kususnya kesehatan maternal. Sehingga memerlukan peran serta perawat unyuk memberikan penyuluhan kususnya terhadap budaya yang membahayakan kesehatan maternal.
3.       Pendapatan
Penghasilan berkaitan erat dengan asupan gizi ibu hamil. Ibub yang sedang mengandung sangat membutuhkan gizi yang cukup untuk perkembangan janinnya. Jadi jika seorang ibu tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi pada janinnya, maka dapatv menyebabkan cacat janin atau bahkan mengancam jiewa janin.

c.       Faktor Perilaku dan Kebiasaan
Pada jaman moderen ini banyak orang yang merokok, minum-minuman keras,dan mengkonsumsi obat-obatan. Seorang ibu hamil sebaiknya tidak merokok dan menjauhi ruangan yang banyak asap rokok karena bahaya asap rokok sama dengan bahaya merokok itu sendiri. Nikotin dalam rokokdapat menggugurkan kandungan, walaupun lahir selamat ukuran bayi lebih kecil dari bayi normal. Ibu hamil juga tidak boleh sembarangan minum obat atau jamu. Beberapa jenis obat tidak boleh di konsumsi ibu hamil karena dapat menyebabkan keguguran kandungan. Ada juga obat yang dapat membuat bayi cacat. Terutama jika obat atau jamu diminum selama triwulan pertama dan kedua. Pada masa ini organ tubuh penting bayi sedang terbentuk.

d.       Faktor Pengalaman Hidup dan Stres
Stres pada masa kehamilan bisa berpengaruh buruk pada janin. Tidak hanya itu, stres pada wanita hamil juga bisa menyebabkan komplikasi kehamilan yang serius. Stres merupakan kondisi emosional individu yang dapat mempengaruhi fungsi normal organ tubuh, seperti meningkatnya denyut jantung, rasa lelah yang berlebihan, sakit kepala, susah tidur, gangguan saluran pencernaan, gangguan saluran kemih dll.
Posisi janin yang berada didalam rahim dapat merespon apa yang sedang dialami pleh si ibu, termasuk stres yang ibu alami. Itulah sebabnya kenapa seorang ibu dituntut untuk tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga harus siap secara mental. Stres pada masa kehamilan akan berdampak buruk pada janinnya. Misalnya keguguran bila stres terjadi pada usia kehamilan din triwulan pertama, atau keterlambatan pertumbuhan janin dalam rahim dan prematur. Stres di picu oleh beberapa sebab, seperti keluhan mual, muntah, pusing, sering buang air, sakit pinggang dan sebab lainnya yang umumnya dikeluhkan wanita hamil. Hanya saja, derajat dan manifestasi klinisnya tidak sama antara wanita yang satu dengan yang lainnya.
Untuk mencegah dan menghilangkanstres pada ibu hamil, supaya ibu makan secara teratur dengan zat gizi cukup serta asupan air minum yang cukup. Selain itu, istirahat yang cukup sesuai kebutuhan antara 7-9 jam sehari dan rutin konsultasi pada dokter kandungan.

D.      PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEBELUM PUBERTAS

Organ kelamin telah terbentuk  dan berdiferensiasi dalam bentuk yang dapatbdikenali sebelum kelahiran. Organ kelamin tersebut tumbuh perlahan semenjak lahir sampai anak-anak, tetapi perkembangannya tidak terjadi sampai tahap awal pubertas.
a.       Perkembangan Organ Kelamin Selama Pranatal
Organ kelamin wanita adalah ovarium (yang menghasilkan gamet kelamin wanita atau ovum),uterus(tempat bayi yang berkembang dilindungi dan diberi nutrisi)dan tuba Fallopii,Vagina serta payudara. Setruktur lainya yang berkaitan dengan fungsi seksual adalah labia,kelenjar vestibular dan klitoris, secara umum telah di kenel sebagai genitalia eksterna.
        Semua organ yang diperlukan untuk fungsi seksusl telah ada pada saat anak dilahirkan. Pada minggu ke-8-10 kehidupan intrauteri, ovarium adalah struktur yang telah terbentuk sempurna yang mengandung sejumlah besar sel benih primordial, beberapa di antaranya berkembang menjadi ovum setelah pubertas. Sel benih primordial membagi diri dengan cepat melalui mitososis sampai bulan kelima kehidupan intrauteri, kemudian memesuki tahap awal meiosis dan di kenal sebagai oosit primer. Setelah diselubungi oleh lapisan tunggal sel storma, sel benih tersebut dikenal sebagai folikel primordial. Pada saat  bulan kelima gestasi kira-kira ada tujuh juta folikel primordial di daalam ovarium. Sejumlah kecil folikel primordial berkembang menjadi folikel primer dan sekunder sebelum kelahiran atau selama masa kanak-kanak, dan kemudian berdegenerasi dalam proses yang dikenel sebagai atresia. Pada saat lahir, remaja putri mmpunyai kira-kira duajuta folikel primordial, tetapi pada saat pubertas jumlahnya berkurang menjadi kurang dari setengah juta, hanya sekitar 400-500 folikel primordial yang akan menyelesaikan mereka menjadi ovum.

E.      Pertumbuhan selama Masa Kanak-Kanak

Selama perkembanganya menuju dewasa, tubuh berkembang terus menerus. Keseluruhan frekuensi pertumbuhan terjadi dengan cepat sebelum lahir, selama masa bayi, dan pada saat pubertas. Semua jarigan tubuh tumbuh secara simultan, tetepi dengan kecepatan yang berbeda. Selama tahun pertama kehidupan, pertumbuhan yang paling cepat adalah sistem saraf dan jaringan limfe. Pertumbuhan sistem saraf melambat setelah pertengahan masa kanak-kanak, yang pada saat itu sistem saraf telah hampir mencapai ukuran dewasa. Jaringan limfe, yang bertanggung jawab untuk imunitas terhadap infeksi, terus menerus tumbuh dengan cepat. Pertumbuhanya mencapai puncak pada awal masa remaja dan kemudian menurun seiring dengan perkembangan usia. Pertumbuhan sistem skeletal selama masa kanak-anak awal yang terbesar adalah ekstrenitas, tetepi setelah iti pertumbuhsn berlanjut hampir seragam sampai masa remaja. Organ reproduktif tumbuh secara berlahan, tetapi mengalami sedikit perkembangan sampai masa pubertas.

F.       Perubahan Karakteristik Fisik selama Pubertas
Perubahan fisik pubertas dimulai antara usia 8-13 tahun pada remaja putri, kira-kira 2 tahun sebelum perubahan pubertas pada laki-laki. Perubahan-perubahan ini dapat dibagi menjadi 4 kategori:

a.       Akselerasi dan kemudian deselerasi pertumbuhan tulang, yaitu lonjakan pertumbuhan remaja.
b.       Perubahan komposisi tubuh sebagai hasil pertumbuhan tulang dan otot serta perubahan dalam kuantitas dan distribusi lemak.
c.       Perkembangan sistem respirasi pada sirkulasi serta organ internal lainnya.
d.       Perkembangan organ reproduksi.
Tidak ada pola perubahan pubertas tertentu yang tetap, dan fariasinya sangat besar sehingga cara perkembangan remaja putri jarang serupa. Usia pada saat usia eksternal pubertas muncul pertamka kali pada remaja putri yang sehat dan normal adalah normal dan berfariasi, begitu juga waktu antara awitan dan perkembangan sempurnanya. Urutan munculnya ciri-ciri pubertas juga, pada kadar tertentu, berfariasi.
G.      Perubahan Karakteristik Fisik Umum

Kontur membulat dan berbentuk lebih padat yang membedakan tubuh remaja putri dengan putra mulai muncul sebelum perubahan seksual di masa pubertas. Lonjakan pertumbuhan pubertas dimulai pada sekitar usia 10 atau 11 tahun, sekitar 2 tahu sebelum lonjakan pertumbuhan pada anak laki-laki, dan berlangsung selama 2 atau 3 tahun(faust,1983;falkener and tanner,1978).
H.      KEMATIAN MATERNAL

Umumnya ukuran yang dipakai untuk menilai baik buruknya keadaan pelayanan maternity care dalam suatu negara atau daerah ialah kematian maternal (maternal Mortality). Menurut WHO “kematian maternal adalah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan”. Sebab-sebab kematian ini dapat di bagi dalam 2 golongan, yakni yang langsung disebabkan oleh komplikasi-komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas, dan sebab-sebab yang lain seperti penyakit jantung, kanker dan sebagainya (associated causes). Angka kematian maternal merupakan jumlah kemetian maternal diperhitungkan terhadap 1000 atau 10.000 kelahiran hidup, tapi kini dalam beberapa negara malahan terhadap 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian yang tinggi setengah abad yang lalu umumnya mempunyai sebab:

1.       Masih kurangnya pengetahuan mengenai sebab-musabab dan penanggulangan komplikasi-komplikasi penting dalam kehamilan, persalinan, serta nifas.
2.       Kurangnya pengertian dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi.
3.       Kurang meratanya pelayanan kebidanan yang baik bagi semua yang hamil.

Setengah abad yang lalu sebab-sebab penting kematian maternal adalah:

1.       Sepsis Puerperalis

Pada tahun 1874 Sepsis Puerperalis disebabkan oleh infeksi dan bahwa dokter dan bidan sering kali merupakan pembawa infeksi itu pada wanita yang sedang bersalin. Setelah kemajuan ilmu mikrobiologi dibuktikan bahwa sebab utama penyakit tersebut adalah berbagai jenis streptokokus, bahwa kuman-kuman tersebut dibawa oleh dokter, bidan, atau tenaga lain yang menghadiri persalinan itu, atau oleh wanita lain yang sedang menderita penyakit tersebut. Dapat dilakukan pencegahan timbulnya serta menjalarnya penyakit, akan tetapi pemberantasan yang sungguh-sungguh berhasil baru tercapai dengan ditemukannya obat-obat sulfonamide dan kemudian pinisilin. Berkat usaha tersebut sepsis puerperalis yang dahulu merupakan sebab kematian maternal yang sangat penting, kini sudah banyak berkurang. Walaupun demikian, bahaya laten tetap adadan pencegahan terhadap timbulnya penyakit ini perlu terus-menerus dilakukan.

2.       Perdarahan

Sebab-sebab perdarahan yang penting ialah perdarahan antepartum (plasenta previa dan solusio plasenta) dan perdarahan postpartum (retensio plasenta, atonia uteri, trauma kelahiran) selanjutnya abortus dan kehamilan ektopik. Frekuensi kematian maternal dalam hal ini juga turun, terutama dengan penggunaan tranfusi darah secara rutin pada kejadian itu. Selain itu ada faktor-faktor lain yangmembantu, yakni organisasi pelayanan kebidanan yanglebih baik sehingga pertolongan dapat diberikan dengan lebih cepat, kemajuan dalam penanganan berbagai kelainan sperti plasenta previa, dan atonia uteri postpartum, paritas yang rendah pada wanita-wanita, serta keadaam sosial ekonomis yang lebih baik di negara-negara maju.

3.       Gestosis (toksemia gravidarum)
Istilah ini menampung pre-eklampsia, eklampsia, dan kelainan-kelainan dalam kehamilan yang berdasarkan hipeertensi menahun, penyakit ginjal, dan sebagainya. Dengan perluasan dan peningkatan mutu pengawasan antenatal yang dapat dinikmati oleh hampir semua wanita hamil, maka walaupun sebab-sebab pre-eklampsia dan eklampsia tidak diketahui angka kematian disini dapat pula diturunkan.

4.       Perlakuan Kelahiran

Dahulu perlakuan kelahiran merupakan sebab kematian maternal yang tidak jarang ditemukanberhubung dengan tindakan-tindakan bedah vaginal yang sukar akan tetapi dengan kemajuan dalam ilmu dan praktek kebidanan, tindakan-tindakan itu dalam banyak hal dapat dihindarkan atau diganti dengan tindakan yang lebih aman.

5.       Trombo-embolismus dan sebab diluar kehamilan

Angka kematian maternal karena trombo-embolismus, dan karena sebab-sebab diluar kehamilan seperti penyakit jantung dan sebagainya menurun pula dengan dengan lebih sempurnanya usaha-usaha untuk mencegah dan atau mengawasi serta menangani penyakit-penyakit yang bersangkutan.
Penurunan angka kematian maternal yang mengagumkan itu dicapai dengan penurunan secara proporsional berbagai sebab kematian yang penting, kecuali untuk sepsis yang angka turunnya dalam persen lebih banyak dari angka-angka lain. Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan angka kematian maternal adalah:

1.       Kemajuan dalam ilmu dan praktek kedokteran, seperti penemuan obat-obat baru, lebih sempurnanya beberapa teknik pembedahan, lebih banyak dilakukan transfusi darah, dan lain-lain.
2.       Lebih sempurnanya serta meluasnya fasilitas-fasilitas untuk memberikan pelayanan kebidanan yang baik.
3.       Lebih baiknya mutu tenaga-tenaga yang memberi pelayanan dalam bidang kebidanan.
4.       Faktor-faktor sosial lebih sempurnanya kesehatan dan lebih baiknya makanan rakyat pada umumnya.

Akan tetapi, walaupun di negara-negara maju telah dicapai hasil-hasil yang sangat memuaskan dalam hal menurunkan angka kematian maternal, analisis yang lebih terinci mengenai sebab-sebabnya menunjukan bahwa masih tidak jarang terjadi kematian yang sebetulnya dapat dicegah, dan yang disebabkan oleh kesalahan dokter, bidan, atau wanita hamil yang bersangkutan.

I.        KEMATIAN PERINATAL

Dengan tercapainya kematian maternal serendah itu, maka sekarang kematian bayi dianggap sebagai ukuran yang lebih baik serta lebih peka untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan. Untuk ini digunakan angka kematian perinatal (perinatalmortality care) yang terdiri atas jumlah anak yang tidak menunjukan tanda-tanda hidup waktu dilahirkan, ditambah dengan jumlah anak yang meninggal dalam minggu pertama dalam kehidupannya,untuk 1000 kelahiran. Penurunan jumlah kematian perinatal dapat dicapai disamping dengan membuat persalinan seaman-amannya bagi bayi dengan mengusahakan agar janin dalam kandunagan dapat hidup dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Hal ini menjadi dorongan kuat untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan janin dalam uterus, termasuk apa yang menyebabkan prematuritas (sebagian besar bayi yang meninggal dalam minggu pertama yitu prematur). Perkembangan membuka bidang yang luas serta baru bagi ilmu kebidanan. Bila dahulu perhatian ditujukan pada faktor-faktor mekanis dalam ilmu kebidanan, kini beralih kepada hal-hal yang bersangkutan dengan fisiologi, patologi, bio-kimia, endokrinologi, dan lain-lain dalam ilmu kebidanan. Masalah-masalah mengenai gangguan tumbuhnya janin karena plasenta tidak berfungsi baik, pengaruh obat-obat terhadap terhadap tumbuhnya alat-alat pada mudigah serta janin, penyakit-penyakit janin karena kelainan susunan kromosom dan sebagainya menjadi pusat perhatian.
Sedang angka kematian bayi (infan mortality rate), yakni angka kematian bayi ampai umur 1 tahun. Penurunan angka kematian pernatal berlangsung lebih lamban, sebabnya ialah karena kesehatan dan keselamatan janin dalam uterus sangat tergantung dari keadaan dan kesempurnaan bekerjanya sistem dalam tubuh ibu yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil konsepsi dari mudigah menjadi janin cukup bulan.
Seperti yang telah dijelaskan, prematuritas memegang peranan penting dalam hal ini. Selanjutnya tidak jarang bersama-sama dengan prematuritas terdapat faktor-faktor lain, seperti kelainan kongenital, asfiksia neonatorum, insufisiensi plasenta, perlukaan kelahiran, dan lain-lain. Dua hal yang banyak menentukan penurunan kematian perinatal adalah tingkat kesehatan serta gizi wanita dan mutu pelayanan kebidanan yang tinggi di seluruh negeri.



PENUTUP
KESIMPULAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi maternal
1.       Lingkungan
2.       Keperawatan Ibu
3.       Sehat
4.       Perkembangan  masa pubertas
5.       Pertumbuhan masa anak-anak
               





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar